Minggu, 03 Juni 2012

G A H A R U


SEPUTAR TUMBUHAN GAHARU
( Aquilaria sp )
Gaharu adalah kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon dari marga Aquilaria, terutama A. malaccensis. Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan setanggi) karena berbau harum. Gaharu sejak awal era modern (2000 tahun yang lalu) telah menjadi komoditi perdagangan dari Kepulauan Nusantara ke India, Persia, Jazirah Arab, serta Afrika Timur.
Berdasarkan studi dari Ng et al. (1997), diketahui jenis-jenis berikut ini menghasilkan resin gaharu apabila terinfeksi oleh kapang gaharu :
  1. just for widening coloum
Aquilaria subintegra, asal Thailand Aquilaria crassna asal Malaysia, Thailand, dan Kamboja
Aquilaria malaccensis, asal Malaysia, Thailand, dan India Aquilaria apiculina, asal Filippina
Aquilaria baillonii, asal Thailand dan Kamboja
Aquilaria baneonsis, asal Vietnam Aquilaria beccarain, asal Indonesia Aquilaria brachyantha, asal Malaysia


  1. just for widening coloum
Aquilaria cumingiana, asal Indonesia dan Malaysia Aquilaria filaria, asal China Aquilaria grandiflora, asal China Aquilaria hilata, asal Indonesia dan Malaysia Aquilaria khasiana, asal India Aquilaria microcarpa, asal Indonesia Malaysia Aquilaria rostrata, asal Malaysia
Aquilaria sinensis, asal Cina
Gaharu sebagai komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) pada saat ini keberadaannya semakin langka dan sangat dicari. Perburuan gaharu yang intensif karena permintaan pasar yang sangat besar menyebabkan gaharu alam dari hutan belantara Indonesia tidak mudah ditemukan. Sehingga pemerintah menurunkan kuota perdagangan gaharu alam untuk mengerem laju kepunahannya. Demikian juga secara internasional terdapat kesepakatan untuk memasukkan beberapa spesies tanaman penghasil gaharu menjadi tanaman yang dilindungi.
Sebelumnya, ekspor gaharu Indonesia tercatat lebih dari 100 ton pada tahun 1985. Pada periode 1990 – 1998, tercatat volume ekspor gaharu mencapai 165 ton dengan nilai US $ 2.000.000. Pada periode 1999 – 2000 volume ekspor meningkat menjadi 456 ton dengan nilai US $ 2.200.000. Sejak akhir tahun 2000 sampai akhir tahun 2002, volume ekspor menurun menjadi sekitar 30 ton dengan nilai US $ 600.000. Penurunan tersebut disebabkan semakin sulitnya gaharu didapatkan. Selain itu, pohon yang bisa didapatkan di hutan alam pun semakin sedikit yang diakibatkan penebangan hutan secara liar dan tidak terkendali serta tidak adanya upaya pelestarian setelah pohon tersebut ditebang.
Tegakan gaharu alam ditemukan di hutan seperti di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Para pemburu gaharu pada dasarnya mengetahui karakteristik tegakan gaharu yang menghasilkan gubal gaharu. Akan tetapi masa kajayaan gaharu telah menyebabkan banyak orang yang tidak berkompeten juga memburu gaharu sehingga banyak pohon yang tidak menghasilkan gaharu juga ditebang sehingga keberadaannya semakin berkurang secara drastis.
Salah satu alternatif yang kemudian dikembangkan oleh banyak pihak adalah dengan membudidayakan tanaman gaharu. Seperti halnya yang telah dikembangkan secara besar-besaran di Vietnam demikian pula di Malaysia. Pengembangan tanaman gaharu di Indonesia belumlah populer karena belum diketahui secara pasti nilai ekonomisnya. Namun dengan gencarnya penelitian oleh berbagai pihak sehingga ditemukan metoda atau teknologi yang cukup menjanjikan dapat membantu tanaman memproduksi gubal gaharu.
Jenis-jenis tanaman yang dapat dikembangkan adalah jenis tanaman yang selama ini dikenal sebagai penghasil gaharu seperti Aquilaria. malaccensis, A. microcarpa, A. beccariana, A. hirta, A. filaria, A. crassna, A. agallocha, A. baillonii, A. khasiana, A. grandiflora, A. borneensis, A. sinensis, Gonystylus bancanus, Gyrinops verstegii.

IDENTIFIKASI ( morfologi ) POHON GAHARU
Aquilaria microcarpa Baill. (family Thymelaeaceae) merupakan jenis pohon penghasil gaharu yang ditemui di Hutan Lindung S. Wain. Adapun ciri morfologi jenisnya adalah sebagai berikut : Pohon mempunyai tinggi mencapai 40 m dengan diameter batang 80 cm.
Kulit batang bagian luar berwarna abu-abu keputihan, pada pohon tua kulit bagian luar jika diraba terasa lunak atau rapuh dan mudah mengelupas. Kulit batang bagian dalam berwarna putih krem dan kayu gubalnya berwarna putih.
Ranting muda berwarna coklat terang dan berbulu halus.
Daun berwarna hijau kadang terdapat bintik-bintik putih dan tepi daun bergelombang, pada bagian atas daun muda tidak terdapat bulu tetapi pada bagian bawah kadang dijumpai adanya bulu-bulu halus, merupakan daun tunggal dengan bentuk daun menjorong hingga lonjong, membundar telur sungsang hingga lonjong atau melanset sungsang dengan panjang 4,5 – 10 cm dan lebar 1,5 – 4,5 cm. Pangkal daun membaji hingga menirus, ujung daun meruncing dan kadang berekor dengan panjang hingga 1 cm. Tulang daun sekunder 12-19 pasang,urat daun tidak beraturan, kadang bercabang, terlihat jelas dari permukaan atas daun. Tangkai daun dengan panjang 3-5 mm, berbulu. Perbungaan di ujung, ketiak dan diatas ketiak tangkai dengan bunga berwarna putih, kuning terang atau kuning dengan panjang hingga 5.mm, berbulu halus.


Kelopak bunga berbentuk bulat telur hingga lonjong, menumpul, berbulu tebal pada kedua permukaan. Bagian mahkota bunga pada umunya lebih panjang dari benangsari, bulat telur hingga lonjong dan berambut tebal. Benangsari panjang 1-1,5 mm, berseling panjang dan pendek dengan kepala sari berukuran 0,5mm. Bakal buah berbulu tebal dengan kepala putik mementol.
Buah kapsul berbentuk menjantung (subcordate), dengan ukuran 8-12(-16) mm sampai 10-12(-15) mm, terdapat 1-2 biji dalam satu buah.
Biji bulat telur dengan ukuran 6-4 mm, berbulu tebal berwarna kecoklatan  
Proses pembentukan  
Gaharu dihasilkan tanaman sebagai respon dari masuknya mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang terluka. Luka pada tanaman berkayu dapat disebabkan secara alami karena adanya cabang dahan yang patah atau kulit terkelupas, maupun secara sengaja dengan pengeboran dan penggergajian. Masuknya mikroba ke dalam jaringan tanaman dianggap sebagai benda asing sehingga sel tanaman akan menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyakit atau patogen. Senyawa fitoaleksin tersebut dapat berupa resin berwarna coklat dan beraroma harum, serta  umpuk pada pembuluh xilem dan floem untuk mencegah http://htysite.com/images/gbr%20tani/gaharu-008-eksudat.jpgmeluasnya luka ke jaringan lain. Namun, apabila mikroba yang menginfeksi tanaman dapat mengalahkan sistem pertahanan tanaman maka gaharu tidak terbentuk dan bagian tanaman yang luka dapat membusuk. Ciri-ciri bagian tanaman yang telah menghasilkan gaharu adalah kulit batang menjadi lunak, tajuk tanaman menguning dan rontok, serta terjadi pembengkakan, pelekukan, atau penebalan pada batang dan cabang tanaman. Senyawa gaharu dapat menghasilkan aroma yang harum karena mengandung senyawa guia dienal, selina-dienone, dan selina dienol. Untuk kepentingan komersil, masyarakat mengebor batang tanaman penghasil gaharu dan memasukkan inokulum cendawan ke dalamnya. Setiap spesies pohon penghasil gaharu memiliki mikroba spesifik untuk menginduksi penghasilan gaharu dalam jumlah yang besar. Beberapa contoh cendawan yang dapat digunakan sebagai inokulum adalah Acremonium sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium nivale, Fusarium solani, Fusarium fusariodes, Fusarium roseum, Fusarium lateritium dan Chepalosporium sp.http://htysite.com/images/gbr%20tani/gaharu%20inokulasi.jpg





Nilai ekonomi Gaharu banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp. yang dalam dunia perdangangan disebut sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut sebagai gaharu buaya. Selain ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya. Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal, kemedangan, dan abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecoklatan dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat. Kemedangan adalah kayu gaharu dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecoklatan sampai abu-abu, memiliki serat kasar, dan kayu lunak. Kelas terakhir adalah abu gaharu yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu.
Pengolahan Minyak Gaharu 
 Sebelum dijadikan bahan baku parfum, gaharu harus diolah terlebih dahulu untuk mendapatkan minyak dan senyawa aromatik yang terkandung di dalamnya. Sebagian kayu gaharu dapat dijual ke ahli penyulingan minyak yang biasanya menggunakan teknik distilasi uap atau air untuk mengekstraksi minyak dari kayu tersebut. Untuk mendapatkan minyak gaharu dengan distilasi air, kayu gaharu direndam dalam air kemudian dipindahkan ke dalam suatu tempat untuk menguapkan air hingga minyak yang terkandung keluar ke permukaan wadah dan senyawa aromatik yang menguap dapat dikumpulkan secara terpisah. Teknik distilasi uap menggunakan potongan gaharu yang dimasukkan ke dalam peralatan distilasi uap. Tenaga uap yang menyebabkan sel tanaman dapat terbuka dan minyak dan senyawa aromatik untuk parfum dapat keluar. Uap air akan membawa senyawa aromatik tersebut kemudian melalui tempat pendinginan yang membuatnya terkondensasi kembali menjadi cairan. Cairan yang berisi campuran air dan minyak akan dipisahkan hingga terbentuk lapisan minyak di bagian atas dan air di bawah. Salah satu metode digunakan saat ini adalah ekstraksi dengan [[superkritikal CO2]], yaitu CO2 cair yang terbentuk karena tekanan tinggi. CO2 cair berfungsi sebagai pelarut aromatik yang digunakan untuk ekstraksi minyak gaharu.[7] Metode ini menguntungkan karena tidak terdapat residu yang tersisa, CO2 dapat dengan mudah diuapkan saat berbentuk gas pada suhu dan tekanan normal.

Konservasi
Pada tahun 1994, konvensi CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) di Amerika Serikat menetapkan bahwa pohon gaharu spesies A. malaccensis masuk ke dalam Appendix II, yaitu tanaman yang dibatasi perdangannya. Penetapan tersebut dikarenakan populasi tanaman penghasil gaharu semakin menyusut di alam yang disebabkan para pengusaha gaharu tidak dapat mengenali dengan tepat mana tanaman yang sudah mengandung gaharu dan siap dipanen. Untuk mencari pohon penghasil gaharu, para pengusaha menebang puluhan pohon yang salah ( tidak menghasilkan gaharu ) sehingga jumlah pohon tersebut sangat berkurang. Pada tahun 2004, Indonesia mengajukan agar semua penghasil gaharu alam yaitu genus Aquilaria dan Gyrinops dimasukkan ke dalam daftar Appendix 2 untuk membatasi perdagangannya sehingga perdagangan gaharu harus memiliki izin dari CITES dan dalam kuota tertentu. Hal ini dilakukan untuk memastikan spesies pohon gaharu alam dapat berkembang dan tersebar dengan baik.
Mahalnya harga jual getah dan pohon gaharu saat ini membuat banyak petani Kotabaru mulai tertarik untuk mengembangkan dan membudidayakan pohon gaharu. Selain memiliki harga ekonomis yang tinggi, pohon gaharu juga dapat tumbuh di kawasan hutan tropis. Pengembangan pohon gaharu saat ini tak terlalu banyak dikenal orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang sudah mengembangkan dan menanam pohon ini. Padahal, keuntungan dari bisnis pohon gaharu dapat mengubah tingkat kesejahteraan warga hanya dalam waktu beberapa tahun.
Selain dapat tumbuh di kawasan hutan, pohon gaharu juga dapat tumbuh di pekarangan warga. Karena itu sebenarnya warga memiliki banyak kesempatan untuk menanam pohon yang menghasilkan getah wangi ini. Banyaknya getah yang dihasilkan dari pohon gaharu tergantung dari masa tanam dan panen pohon tersebut. Misalnya untuk usia tanam selama 9 sampai 10 tahun, setiap batang pohon mampu menghasilkan sekitar 2 kilogram getah gaharu.
Sementara harga getah gaharu mencapai Rp5-20 juta per kilogram. Harga itu tergantung dari jenis dan kualitas getah gaharu. Untuk getah gaharu yang memiliki kualitas rendah dan berwarna kuning laku dijual Rp5 juta per Kg, sedangkan untuk getah pohon gaharu yang berwarga hitam atau dengan kualitas baik laku dijual Rp15-20 juta per Kg.
Salah seorang petani Kotabaru yang sudah mengembangkan pohon gaharu ini adalah Miran, warga Desa Langkang, Kecamatan Pulau Laut Timur. Menurutnya, untuk menanam pohon gaharu dan menghasilkan banyak getah diperlukan perawatan khusus.
Saat pohon gaharu berumur sekitar 5-8 tahun, pohon yang tumbuh seperti pohon hutan alam itu perlu disuntik dengan obat pemuncul getah. Setiap pohon diperlukan satu ampul dengan harga Rp300 ribu. Miran mengaku, ia sudah menjual sekitar 50 batang pohon gaharu yang masih berumur sekitar 1-3 tahun dengan nilai Rp19 juta. Ia juga telah menanam 500 batang pohon gaharu dengan umur satu tahun lebih dan tinggi sekitar 50 cm. Karena memiliki sifat tumbuh yang tidak jauh beda dengan tanaman hutan lainnya, setiap hektar lahan dapat ditanam sekitar 500 pohon gaharu dengan jarak tanam sekitar 3 - 4 meter kali 6 meter. ( 3 - 4 m x 6 m )
“Jika lahan tidur di wilayah kita dikembangkan dengan menanam gaharu, maka 10-15 tahun kemudian akan menghasilkan uang ratusan juta,” terang Miran. Sebelumnya, Miran sudah mencoba beberapa tanaman kebun, namun hasilnya tidak seperti menanam pohon gaharu. Dalam satu pohon usia dewasa dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah, Selain Miran banyak petani lain di Desa Betung, Langkang Lama, Langkang Baru, Gunung Ulin dan Sebelimbingan yang mulai mengembangkan kayu yang biasa diambil getahnya untuk bahan minyak dan bahan obat obatan tersebut.(Narullah)

 G A H A R U
Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aguilaria sp. (Nama daerah : Karas, Alim, Garu dan lain-lain).
Gaharu, jenis tanaman ini sangat akrab di wilayah tropis seperti Indonesia ini. Siapa yang tidak kenal gaharu. Masyarakat Indonesia yang tumbuh dengan pengaruh asia terutama India, China dan Melayu sangat akrab dengan gaharu mulai awal era klasik Nusantara. Kebudayaan Hindu, Bhuda, Konghucu memanfaatkan kayu gaharu untuk: Keperluan ritual keagamaan (dupa, hiyo; Hindu Budha, Konghucu), Pengharum badan , Pengharum ruangan, Bahan kosmetik, Obat-obatan sederhana.


Kayu gaharu dulu didapatkan di hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis Nusantara memberikan secara alamiah proses terbentuknya kayu gaharu di wilayah sesuai dengan syarat tumbuhnya: Sesuai dengan kondisi habitat alami; Dataran rendah, Berbukit (< 750 mdpl).
Jenis Aquilaria tumbuh baik di jenis tanah Podsolik merah kuning, tanah lempung berpasir, dengan drainage sedang sampai baik, iklim A-B, kelembaban 80%, suhu 22-28 derajat Celsius, Curah hujan 2000-4000 mm/th. Tidak baik tumbuh di tanah tergenang, rawa, ketebalan solum tanah kurang 50 cm, pasir kwarsa, tanah dengan pH < 4.
Jaman dulu gaharu diperoleh dari alam langsung untuk kepentingan sendiri. Tetapi dalam perkembangannya kayu gaharu menjadi komoditas yang langka karena diexploitasi besar-besaran dan mulai diperdagangkan ke berbagai penjuru dunia (China, Arab, India dan Eropa dll). Saat ini menjadi suatu kesulitan untuk mendapatkan kayu gaharu dalam jumlah besar, karena hutan-hutan sudah dilindungi dan dikonservasi. Meskipun demikian di pasar selalu beredar komoditas tersebut yang diambil dari hutan-hutan. Kecuali daerah-daerah yang memenag sudah melakukan pembudidayaan gaharu.
Saat ini Pusat Penelitian geografi Terapan (PPGT-FMIPA) Universitas Indonesia (UI) sudah meluncurkan hasil penelitiannya terkait dengan rekayasa produksi kayu gaharu. Kayu gaharu yang tadinya hanya didapatkan dari alam langsung sekarang sudah dapat dbudidayakan dengan lebih seksama seperti tanaman perkebunan lain (teh, kopi, coklat, karet dll).
Gaharu rekayasa memberikan peluang perencanaan budidaya yang lebih akuntable, dari mulai penyemaian, pembibitan, penanaman, penyiapan lahan, pemupukan, perawatan, pengobatan, rekayasa in-okulasi (pemasukan enzim pembentuk jamur gaharu yang harum dan khas wangi baunya. Dari mulai penanaman hingga dapat dilakukan inokulasi ketika pohon gaharu berumur 4-5 tahun. Dan setelah 1-2 tahun kemudian dapat di panen.
Kebutuhan gaharu dunia sangat besar quota Indonesia 300 ton/tahun baru dapat dipenuhi 10 % inipun berasal dari gaharu alam. Temuan rekayasa produksi kayu gaharu memberi peluang yang sangat besar bagi perkebunan di Indonesia. Dan keuntungan lainnya gaharu dapat disisipkan di sela-sela perkebunan karet, ataupun dapat juga perkebunan gaharu dengan sistem tumpang sari yang mana pohon gaharu sebagai tanaman induk (tanaman keras tahunan) dan pada lahan yang sama di tanam tanaman musiman yang disarankan jenis tanaman dengan buah di atas (bukan umbi-umbian).
Jika pada tahun 2009 pemerintah bersama masyarakat perkebunan dan pertanian secara serentak melakukan penanaman dan tahun 2014 dilakukan penyuntikan (inokulasi) maka 2015/16 Indonesia menjadi produsen kayu gaharu terbesar di dunia. Mari bersama sama mensukseskan 2009 sebagai tahun Gaharu Indonesia. Dan saat ini pihak UI sudah mempersiapkan bibit gaharu sebanyak-banyaknya. Kami bekerjasama dengan UI sudah memulai penanaman bibit gaharu, baik di Jawa Barat(sawangan Depok), Yogyakarta (kulon Progo), maupun Jawa Timur (Malang)
Istilah Istilah Umum Abu gaharu adalah serbuk kayu gaharu yang dihasilkan dari proses penggilingan atau penghancuran kayu gaharu sisa pembersihan atau pengerokan.
Damar gaharu adalah sejenis getah padat dan lunak, yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, dengan aroma yang kuat, dan ditandai oleh warnanya yang hitam kecoklatan.
Gubal gaharu adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang agak kuat, ditandai oleh warnanya yang hitam atau kehitam-hitaman berseling coklat.
Kemedangan adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang lemah, ditandai oleh warnanya yang putih keabu-abuan sampai kecoklat-coklatan, berserat kasar, dan kayunya yang lunak.

Spesifikasi Gaharu dikelompokkan menjadi 3 (tiga) sortimen, yaitu gubal gaharu, kemedangan dan abu gaharu.
Klasifikasi
Gubal gaharu dibagi dalam tanda mutu, yaitu :
1. Mutu utama, dengan tanda mutu U, setara mutu super.
2. Mutu pertama, dengan tanda mutu I, setara mutu AB.
3. Mutu kedua, dengan tanda mutu II, setara mutu sabah super.
Kemedangan dibagi dalam 7 (tujuh) kelas mutu, yaitu :
1. Mutu pertama, dengan tanda mutu I, setara mutu TGA atau TK I.
2. Mutu kedua, dengan tanda mutu II, setara mutu SB I.
3. Mutu ketiga, dengan tanda mutu III, setara mutu TAB.
4. Mutu keempat, dengan tanda mutu IV, setara mutu TGC.
5. Mutu kelima, dengan tanda mutu V, setara mutu M 1.
6. Mutu keenam, dengan tanda mutu VI, setara mutu M 2.
7. Mutu ketujuh, dengan tanda mutu VII, setara mutu M 3.
Abu gaharu dibagi dalam 3 (tiga) kelas mutu, yaitu :
1. Mutu Utama, dengan tanda mutu U.
2. Mutu pertama, dengan tanda mutu I.
3. Mutu kedua, dengan tanda mutu II.
Cara Pemungutan
1. Gubal gaharu dan kemedangan diperoleh dengan cara menebang pohon penghasil gaharu yang telah mati, sebagai akibat terjadinya akumulasi damar wangi yang disebabkan oleh infeksi pada pohon tersebut.
2. Pohon yang telah ditebang lalu dibersihkan dan dipotong-potong atau dibelah-belah, kemudian dipilih bagian-bagian kayunya yang telah mengandung akumulasi damar wangi, dan selanjutnya disebut sebagai kayu gaharu.
3. Potongan-potongan kayu gaharu tersebut dipilah-pilah sesuai dengan kandungan damarnya, warnanya dan bentuknya.
4. Agar warna dari potongan-potongan kayu gaharu lebih tampak, maka potongan-potongan kayu gaharu tersebut dibersihkan dengan cara dikerok.
5. Serpihan-serpihan kayu gaharu sisa pemotongan dan pembersihan atau pengerokan, dikumpulkan kembali untuk dijadikan bahan pembuat abu gaharu.
 Cara Uji
1. Prinsip : Pengujian dilakukan secara kasat mata (visual) dengan mengutamakan kesan warna dan kesan bau (aroma) apabila dibakar.
2. Peralatan yang digunakan meliputi meteran, pisau, bara api, kaca pembesar (loupe) ukuran pembesaran > 10 (sepuluh) kali, dan timbangan.
 Syarat pengujian
1. Kayu gaharu yang akan diuji harus dikelompokkan menurut sortimen yang sama. Khusus untuk abu gaharu dikelompokkan menurut warna yang sama.
2. Pengujian dilaksanakan ditempat yang terang (dengan pencahayaan yang cukup), sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu atau abu gaharu.
Pelaksanaan pengujian
1. Penetapan jenis kayu Penetapan jenis kayu gaharu dapat dilaksanakan dengan memeriksa ciri umum kayu gaharu.
2. Penetapan ukuran Penetapan ukuran panjang, lebar dan tebal kayu gaharu hanya berlaku untuk jenis gubal gaharu.
3. Penetapan berat Penetapan berat dilakukan dengan cara penimbangan, menggunakan satuan kilogram (kg).
4. Penetapan mutu Penetapan mutu kayu gaharu adalah dengan penilaian terhadap ukuran, warna, bentuk, keadaan serat, bobot kayu, dan aroma dari kayu gaharu yang diuji. Sedangkan untuk abu gaharu dengan cara menilai warna dan aroma.
Penilaian terhadap ukuran kayu gaharu, adalah dengan cara mengukur panjang, lebar dan tebal, sesuai dengan syarat mutu pada Tabel 2. Penilaian terhadap warna kayu dan abu gaharu adalah dengan menilai ketuaan warna, lebih tua warna kayu, menandakan kandungan damar semakin tinggi. Penilaian terhadap kandungan damar wangi dan aromanya adalah dengan cara memotong sebagian kecil dari kayu gaharu atau mengambil sejumput abu gaharu, kemudian membakarnya. Kandungan damar wangi yang tinggi dapat dilihat dari hasil pembakaran, yaitu kayu atau abu gaharu tersebut meleleh dan mengeluarkan aroma yang wangi dan kuat.
Penilaian terhadap serat kayu gaharu, adalah menilai kerapatan dan kepadatan serat kayu. Serat kayu yang rapat, padat, halus dan licin, bermutu lebih tinggi dari pada serat yang jarang dan kasar.
10.4.5. Penetapan mutu akhir
 Penetapan mutu akhir didasarkan pada mutu terendah menurut salah satu persyaratan mutu berdasarkan karakteristik kayu gaharu.
Syarat Lulus Uji Kayu gaharu atau abu gaharu yang telah diuji atau diperiksa, dinyatakan lulus uji apabila memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan.
Syarat Penandaan Pada kemasan kayu atau abu gaharu yang telah selesai dilakukan pengujian harus diterakan:
- Nomor kemasan
- Berat kemasan
- Sortimen
- Mutu
- Nomor SNI
- Tanda Pengenal Perusahaan (TPP)

Gaharu Buatan Balitbang Kehutanan
Oleh Nawa Tunggal
Bagi awam, kerap kali gaharu dikenal sebagai pohon berkayu wangi layaknya kayu cendana. Padahal, berbeda sama sekali. Gaharu pun sekarang bukan melulu berkah alam tanpa campur tangan manusia karena ditemukan metode produksi gaharu buatan yang tak kalah dengan yang alami.
Di Bogor, Jawa Barat, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kehutanan pada Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan mengembangkan rekayasa produksi gaharu buatan.
Risetnya dimulai sejak tahun 2000. Riset itu menunjukkan keberhasilan dalam waktu satu sampai dua tahun terakhir ini.
Gaharu itu sendiri sebagai hasil persenyawaan enzim jamur tertentu yang menginfeksi kayu jenis tertentu pula. Persenyawaan itu menghasilkan damar wangi yang kemudian dikenal sebagai gaharu.
Kayu yang mengandung damar wangi atau gaharu kategori paling bagus atau kelas super mencapai harga Rp 50 juta per kilogram. Melalui metode penyulingan, gaharu umumnya dimanfaatkan sebagai pewangi.
Kepala Bidang Puslitbang Hutan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Sulityo A Siran mengatakan, gaharu mulai diendus pula untuk obat herbal berbagai jenis penyakit berat, seperti tumor, kanker, lever, tuberkulosis, dan ginjal.
Soal pepatah, ”Sudah gaharu, cendana pula!”, menurut Sulistyo, itu hanyalah pepatah untuk menguatkan suatu hal. Gaharu beraroma wangi. Tentu akan wangi berlipat-lipat jika gaharu terdapat di kayu cendana yang memang sudah wangi. ”Pada kenyataanya, gaharu tidak pernah berada di kayu cendana,” ujarnya.

 Teknik budidaya GAHARU
Beberapa jenis tumbuhan berpotensi untuk memproduksi gaharu sudah dieksplorasi. Jenis tumbuhan itu meliputi Aquilaria spp, Aetoxylon sympetallum, Gyrinops, dan Gonsystylus.
Berbagai jenis tumbuhan itu tersebar di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Tetapi, keberadaannya sekarang mulai langka.
Masyarakat juga sulit mengenali jenis tumbuhan tersebut. Salah satu jenis Aquilaria di Kalimantan dikenal dengan nama lokal karas. Keberadaannya mulai jarang dijumpai pula.
Teknik budi daya gaharu dengan cara penginfeksian jamur pembentuk gaharu ke dalam batang pohon potensial. Isolat jamur penginfeksi atau pembentuk gaharu sudah dieksplorasi Balitbang Kehutanan dengan hasil diperoleh dari genus Fusarium dan Cylindrocarpon.
• Pemilihan Species
Aquilaria malaccensis, A. microcarpa serta A. crassna adalah species penghasil gubal gaharu dengan aroma yang sangat disenangi masyarakat Timur Tengah, sehingga memiliki harga paling tinggi.
• Lokasi Penanaman.
Gaharu dapat ditanam mulai dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 750 m dpl.
• Pola Tanam
Monokultur atau sistem campur (tumpangsari, atau agroforestry)
• Jarak Tanam
Jarak tanam 3 x 3 m (1.000 pohon/ha.), namun dapat juga 2.5 x 3 m sampai 2.5 x 5 m. Jika tanaman gaharu ditanam pada lahan yang sudah ditumbuhi tanaman lain, maka jarak tanaman gaharu minimal 3 m dari tanaman tersebut.
• Lubang tanam
Ukuran lubang tanam adalah 40 x 40 x 40 cm. Lubang yang sudah digali dibiarkan minimal 1 minggu, agar lubang beraerasi dengan udara luar. Kemudian masukkan pupuk dasar, campuran serbuk kayu lapuk dan kompos dengan perbandingan 3 : 1 sampai mencapai ¾ ukuran lubang. Kemudian setelah beberapa minggu pohon gaharu, siap untuk ditanam.
• Penanaman
Penanaman benih gaharu sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan di pagi hari sampai jam 11.00, dan dapat dilanjutkan pada jam 4 petang harinya.
• Pemeliharaan Pemupukan dapat dilakukan sekali 3 bulan, namun dapat juga setiap 6 bulan dengan kompos sebanyak 3 kg melalui pendangiran dibawah canopy. Penggunaan pupuk kimia seperti NPK dan majemuk dapat juga ditambahkan setiap 3 bulan dengan dosis rendah (5 gr/tanaman) setelah tanaman berumur 1 tahun, kemudian dosisnya bertambah sesuai dengan besarnya batang tanaman. Hama tanaman gaharu yang perlu diperhatikan adalah kutu putih yang hidup di permukaan daun bawah, bila kondisi lingkungan lembab. Pencegahan dilakukan dengan pemangkasan pohon pelindung dan pruning agar kena cahaya matahari diikuti penyemprotan pestisida seperti Tiodane, Decis, Reagent., dll Pembersihan gulma dapat dilakukan sekali 3 bulan atau pada saat dipandang perlu.
Pemangkasan pohon dilakukan pada umur 3 sampai 5 tahun, dengan memotong cabang bagian bawah dan menyisakan 4 sampai 10 cabang atas. Pucuk tanaman dipangkas dan dipelihara cukup sekitar 5 m, sehingga memudahkan pekerjaan inokulasi gaharu.
Saat ini diperoleh dari genus Fusarium sebanyak 23 isolat jamur. Empat isolat jamur Fusarium paling cepat menginfeksi kayu berpotensi menjadi gaharu.
”Dalam satu bulan kayu yang diinfeksi dengan keempat isolat jamur tersebut sudah mampu menunjukkan tanda-tanda keberhasilannya,” kata Sulistyo.
Kemudian gaharu buatan itu bisa dipetik pada usia satu hingga tiga tahun. Pohon potensial yang dipilih untuk membentuk gaharu, yang sudah berdiameter lebih dari 15 sentimeter dan usianya di atas 5-6 tahun.
Untuk menyuntikkan isolat jamur penginfeksi, sebelumnya pohon potensial dilukai. Pada bagian pelukaan tersebut, isolat jamur disuntikkan. ”Dalam satu pohon disuntikkan isolat jamur pada 200 sampai 300 titik pelukaan batang,” kata Sulistyo. Dalam pelukaan kemudian terjadi infeksi jamur yang membentuk warna kehitam-hitaman.
Selama tiga tahun, semburat warna kehitaman itu akan menyebar ke atas dalam jarak hanya 3-4 sentimeter saja. Semburat warna kehitam-hitaman pada serat kayu itulah yang disebut gaharu.
Selama ini gaharu alam yang paling bagus disebut gaharu super yang berwarna hitam pekat, padat, keras, mengilap, dan beraroma kuat khas gaharu.
Gaharu super tidak menampakkan serat kayunya. Bentuknya seperti bongkahan yang di dalamnya tidak berlubang.
”Klasifikasi mutu gaharu ditetapkan ada enam. Berturut-turut dari yang paling bagus, yaitu kelas super, tanggung, kacangan, teri, kemedangan, dan cincangan,” kata Sulistyo.
Kelas cincangan merupakan potongan kecil-kecil dari kayu yang terinfeksi menjadi gaharu. Meskipun tidak berwarna kehitaman atau tidak mengandung getah gaharu, kelas cincangan masih menunjukkan aroma khasnya. Biasanya, gaharu ini digunakan untuk pembuatan dupa atau hio.
Dalam proses produksi gaharu buatan, yang sangat penting dikuasai adalah proses pembenihan, persemaian, penanaman, dan pemeliharaan pohon-pohon berpotensi gaharu.



 3 gambar ini gaharu yang setelah di suntik umur 13 bulan di panen minimal panen setelah penyuntikan 24 bulan


 penyuntikan umur 3-6 bulan

hasil hutan bukan kayu ( HHBK)

Gaharu yang mudah hidup di kalimantan barat adalah aquilaria malaccensis dan lebih bagus di tanam di sela-sela karet.
tersedia bibit dalam jumlah besar untuk yang berminat bisa via email jawantneverdikito@ymail.com dan mikaeljawant@yahoo.co.id untuk mempermudah dalam komunikasi..

inokulum adalah untuk mempercepat terbentuknya getah/resin/ gaharunya...

Jumat, 14 Oktober 2011

laporan silvika


BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Dikutip dari Hard Book of Indonesian Forestry (1997). Hutan itu suatu masyarakat tumbuhan yang kompleks yang terdiri dari pohon, semak, tumbuhan basa, jasad renik tanah dan hewan lainnya, yang satu dengan yang lainnya terikat dalam hubungan ketergantungan. Tetapi bagi orang awam tentang hutan, mereka berasumsi bahwa hutan itu merupkan areal yang ditumbuhi pohon-pohon. Akan tetapi bila seseorang lebih dalam meneliti kedalamannya, maka akan ditemukan banyak perbedaan-perbedaan yang ditemukan. Perbedaan-perbedaan tersebut dinyatakan dalam berbagai cara, tergantung bagimana kita memandangnya, misalnya dalam pengenalan tegakan hutan. Tegakan hutan dapat didefinisikan sebagai unit yang homogen yang dapat dapat dibedakan dengan jelas dari tegakan disekitar oleh umur, asal, komfensisi, campurtangan manusia, struktur hutannya, klasifikasi pohon serta toleransi pohonnya.
Tidak ada areal yang tetap yang dapat disebut tegakan dan ukuran bisa berubah menurut Intensitas pengolahan oleh karen itu dengan diadakan pengamatan atau penelitian dilapangan kita dapat mengetahui secara langsung apa saja yang telah mmpengaruhi suatu tegakan atau semua organisme yang ada didalam hutan.
B.  Tujuan Praktek
a.   Menentukan tipe hutan yang ada pada area praktek lapangan
b.   Menentukan struktur hutan berdasarkan umur, kelas diameter dan kelas tajuk
c.   Menentukan kelas tajuk pohon dan sketsanya
d.   Menentukan toleransi dari beberapa jenis pohon
C.  Manfaat Praktek
      a.   Kita dapat mengetahui tipe hutan dilapangan, stuktur hutan yang berdasarkan umur, kelas diameter dan kelas tajuk serta kita dpat mengetahui toleransi setiap jenis pohon
      b.   Penulis berharap hasil dari praktikum ini dapat dimanfaatkan oleh instansi yang terkait.

D.  Tinjauan Pustaka
Hutan merupakan suatu ekosistem yang dicirikan oleh penutup pohon yang kurang lebih rapat dan luas ( Ferd – Robinson, 1971 ).
               Kumpulan pohon disebut hutan hanya bila cukup rapt menutup areal yang cukup luas untuk menimbulkan suatu kondisi iklim dan ekologis yang berbeda dengan kondisi luarnya ( Dengler, 1944 ).
               Didalam kesatuan hutan dapat dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan:
a.       Tipe Hutan
      Tipe hutan ini merupakan istilah yang digunakan bagi kelompok tegakan yang mempunyai ciri-ciri yang sama dalam susunan, jenis dan perkembangannya. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor ekologi tertentu dan terjadi secara alami, kelompok tersebut merupakan asosiasi berbagai jenis pohon yang tumbuh bersama pada suatu daerah tertentu atau kawasan yang luas. Pada umumnya tipe hutan dapat ditetntukan berdasarkan :
1.      Asal
Hutan yang berkembang dari biji disebut hutan tinggi (higt-forest), sedangkan yang berproduksi secara vegetatif dengan tunas pengisap disebut coppice. Hutan dapat terdiri campuran coppice dan standar. Standar adalah pohon yang berasal dari biji atau tunas yang dibiarkan tumbuh selma dua atau lebih rotasi coppice, dan biasanya terlalu besar untuk bertunas dengan baik setelah dipotong.
2.      Umur
Hutan dibedakan menurut umurnya menjadi pertumbuhan tua. Pertumbuhan  tua terutama diwakili oleh areal hutan asli yang berkurang dengan pesat. Tetapi masih merupakan sebagian besar dari kayu yang ditebang di Amerika Serikat bagian barat. Pertumbuhan muda terdiri dari hutan bekas tebangan atau kebakaran yang berada dalam banyak fase pertumbuhan.
3.      Komposisi
Hutan dapat diklasifikasikan berdasarkan atas adanya jenis murni atau campuran. Karena tegakan yang benar-benar murni, jarang ada kecuali di barat, ditempai pinus ponderosa, dan populasi yang mempunyai areal murni sangat luas. Kira-kira 90% dari satu jenis telah dipilih sebagai ciri untuk memisahkan tegakan murni dari tegakan camouran. Bahkan dengan tingkat kemurnian tegakan 90%, seluruh tegakan merupakan campuran dua atau lebih jenis. Tegakan murni juga terdapat pada hutan tanaman atau pada tempat tumbuh yang khusus seperti hutan rawa Picea Mariana. Baik hutan murni maupun campuran dapat berupa tegakan seumur, tidak seumur / segala umur.
4.      Campur tangan manusia
  Hutan yang regenerasinya terjadi secara alami disebut hutan alam,    sedangkan
hutan yang regenerasinya dipengaruhi oleh campur tangan manusia disebut hutan buatan.
b.      Stuktur Hutan
      Strutur tegakan menunjukkan sebaran umur atau kelas diameter dan kelas atau posisi tajuk. Klasifikasi tersebut diurikan sebagai berikut :
Berdasarkan ukuran diameter setinggi dada dan tinggi pohon :
-          Tingkat semai, tinggi sampai dengan 1,5 meter
-          Tingkat pancang tinggi lebih dari 1,5 meter sampai diameter <10 cm
-          Tingkat tiang, diameter 10 cm s/d <20 cm
-          Tingkat pohon kecil diameter 20 cm s/d 50 cm
-          Tingkat pohon besar diameter 50 cm keatas
  1. Klasifikasi Pohon
            Klasifikasi pohon dapat ditentukan berdasarkan tajuk pohon Klasifikasi pohon ( Krof, 1884 ), sehingga dikenal 5 kelas tajuk pohon yaitu :
-          Dominan
Pohon dengan tajuk lebar diatas lapisan tajuk, menerima sinar matahari dari atas dan dari samping.
-          Kodominan
Pohon dengan tajuk besar pada lapisan tajuk, menerima sinar matahari langsung dari atas dan sebagian dari samping. Tajuk agak lebih kecil sedikit dibanding dengan tajuk pohon dominan tetapi kondisi pohon sehat dan tegar.
-          Intermediet
Pohon dengan sebagian besar tajuk dibawah lapisan tajuk terjepit, menerima sebagian sinar matahari dari atas dan sebagian kecil atau tidak menerima cahaya sama sekali dari samping
-          Tertekan
Pohon-pohon dengan tajuk dinaungi pohon-pohon besar dan tidak menerima sinar matahari sepenuhnya baik dari atas maupun bagian samping
-          Pohon Mati
Pohon yang telah mati, yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan yang disebabkan karena kurangnya mendapat sinar matahari atau karena kalahnya persaingan dengan tanaman lain
d.      Toleransi pohon
      Toleransi adalah reaksi atau tingkat kepekaan suatu jenis pohon terhadap cahaya atau kemampuan suatu jenis pohon terhadap cahaya atau kemampuan suatu jenis pohon untuk tumbuh dan berkembang dibawah tajuk tegakan alam, sehingga dikenal adanya jenis pohon toleran dan jenis pohon intoleran.
Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam menentukan sifat toleransi suatu pohon yaitu :
a.       Kerapatan tajuk
b.      Kerapatan batang
c.       Pemangkasan cabang alami
d.      Jumlah percabangan
e.       Peruncingan batang, dan
f.       Kerapatan tegakan           


                 

BAB II
PELAKSANAAN PRAKTEK
A.    Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Praktikum ini dilaksanakan di desa Suka Bangun, Gunung Bawang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Bengkayang pada :
Hari     : Senin - Selasa
Tgl       : 06-07 juni 2011
B.     Objek Praktikum
Objek praktikum kali ini adalah vegetasi hatan tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon, serta kaadaan disekitar hutan.
C. Metode Praktikum
A.    Alat
1.      Kompas
2.      Pita ukur
3.      Tali (50 meter)
4.      Alat tulis menulis
B.     Bahan
1.      Vegetasi yang terdapat pada daerah tersebut.
D. Tahapan Pelaksanaan Praktikum
a.       Buatlah 10 petak berukuran 20m x 20m pada jalur yang panjangnya 125m dengan lebar 20m yaitu 10m kekiri dan 10m kekanan. Arah jalur ditentukan dengan kompas
b.      Pada petak berukuran 20m x 20m, dibuat lagi petak berukuran 10m x 0m untuk tingkat tiang, 5m x 5m untuk tingkat pancang, 2m x 2m untuk tingkat semai
c.       Pada tiap-tiap petak pengamatan tersebut dicatat jenis pohon, jumlah dan diameter, kecuali untuk semai diameter tidak dicatat
d.      Selain pengamatan dan pengukuran, amati jenis-jenis yang ditemukan, dalam petak apakah berasal dari biji atau trubusan                          

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL
1.      Tipe Hutan
a.       Tabel hasil pengukuran vegetasi tingkat Pohon ( 20m x 20m )
No.
Petak
Jenis
Asal
Jumlah
1
Bengkirai
Meranti
Malaban
X
Biji
Biji
Biji
Biji
1
2
1
5
2
 Kayu Malam
Biji
1
3
Malaban
Mentibu
Meranti
X
Biji
Biji
Biji
Biji
2
2
1
1
4
Malaban
Bengkirai
Meranti  
Biji
Biji
Biji
2
2
1
5
Bengkirai
Malaban
Biji
Biji
1
2
6
Petai hutan
Meranti
Biji
Biji
1
1
7
Benkirai
Malaban
Biji
Biji
1
1
8
Bengkirai
Meranti  
Biji
Biji
1
2
9
Bengkirai
Meranti
Biji
Biji
2
1
10
Bengkirai
Malaban
Meranti  
Biji
Biji
Biji
2
1
2

b.      Tabel hasil pengukuran vegetasi tingkat Tiang ( 10m x 10m)
No.
Petak
Jenis
Asal
Jumlah
1
Meranti
Bengkirai
Mentibu
Biji
Biji
Biji
4
6
6
2
Malaban
Bengkirai
Meranti
Biji
Biji
Biji
7
9
7
3
Bengkirai
Meranti
Malaban
Biji
Biji
Biji
8
7
5
4
Malaban
Bengkirai
Biji
Biji
4
9
5
Malaban
Bengkirai
Meranti
Biji
Biji
Biji
5
8
6
6
Bengkirai
Meranti
Malaban
Mentibu
Biji
Biji
Biji
Biji
6
4
8
3
7
Malaban
Bengkirai
Biji
Biji
7
9
8
Bengkirai
Meranti
Malaban
Biji
Biji
Biji
8
7
5
9
Bengkirai
Meranti
Malaban
Mentibu
Biji
Biji
Biji
Biji
6
4
8
10
10
X
Malaban
Bengkirai
Biji
Biji
Biji
6
8
9

c.       Tabel hasil pengukuran vegetasi tingkat Pancang ( 5m x 5m )
No.
Petak
Jenis Pohon
Asal
Jumlah
1
Bengkirai
Meranti
Malaban
X 1
X2
Biji
Biji
Biji
Biji
Biji
7
9
6
5
8
2
Bengkirai
Meranti
Malaban
X1
X2
X3
Biji
Biji
Biji
Biji
Biji
Biji
7
9
6
7
4
8
3
Bengkirai
Meranti
Malaban
Mentibu
Biji
Biji
Biji
Biji
5
4
7
9
4
Bengkirai
Malaban
Biji
Biji
7
8
5
Bengkirai
Meranti
Malaban
Biji
Biji
Biji
8
9
5
6
Bengkirai
Meranti
Malaban
Mentibu
Petai hutan
X
Biji
Biji
Biji
Biji
Biji
Biji
8
9
5
10
9
13
7
Bengkirai
Meranti
Biji
Biji
9
10
8
Bengkirai
Meranti
Malaban
Mentibu
Biji
Biji
Biji
Biji
9
6
8
6
9
Bengkirai
Malaban
Meranti
Biji
Biji
Biji
8
9
8
10
Meranti
Malaban
Mentibu
Biji
Biji
Biji
14
9
10
     




d.   Tabel hasil pengukuran vegetasi tingkat Semai ( 2m x 2m )        
No.
Petak
Jenis Pohon
Asal
Jumlah
1
X1
X2
X3
X4
Biji
Biji
Biji
Biji
10
13
7
12
2
Bengkirai
Meranti
Malaban
Mentibu
X1
X2
X3
Biji
Biji
Biji
Biji
Biji
Biji
Biji
12
9
6
10
13
9
8
3
Bengkirai
Meranti
Malaban
Mentibu
Biji
Biji
Biji
Biji
14
10
7
9
4
X1
X2
X3
Malaban
Biji
Biji
Biji
Biji
10
7
6
15
5
Bengkirai
Meranti
Malaban
Mentibu
Biji
Biji
Biji
Biji
7
13
9
8
6
X1
X2
X3
Biji
Biji
Biji
12
110
8
7
 Bengkirai
Meranti
Malaban
Mentibu
Biji
Biji
Biji
Biji
9
6
4
10
8
 Bengkirai
Meranti
Malaban
Biji
Biji
Biji
9
8
14
9
Bengkirai
Meranti
Biji
Biji
9
14
10
Bengkirai
Meranti
X1
X2  
Biji
Biji
Biji
Biji
7
15
9
5



  1. Klasifikasi Pohon
a.      Pohon
No
Petak
Nama Pohon
Tajuk
Diameter
(Cm)
Tinggi
( M )
1
2
3
4
I
Bengkirai
Meranti
Malaban
X
Kodominan
Dominan
Dominan
Dominan
27,70
22,30
111,46
100,63

5
II
Kayu Malam
Kodominan
35,62

6
7
8
9
III
Malaban
Mentibu
Meranti
X
Kodominan
Kodominan
Kodominan
Kodominan
22,30
38,22
43,95
22,45

10
11
12
IV
Malaban
Bengkirai
Meranti
Kodominan
Kodominan
Kodominan
31,21
78,02
24,20

13
14
V
Bengkirai
Malaban
Kodominan
Kodominan
31,85
30,2

24
25
VI
Petai hutan
Meranti
Kodominan
Intermediet
23,88
21,02

26
27
VII
Bengkirai
Malaban
Dominan
kodominan
44,58
21,00

28
29
30
VIII
Bengkirai
Meranti
Meranti
Dominan
Kodominan
kodominan
101,91
23,88
26,75

31
32
33
IX
Meranti
Bengkirai
Bengkirai
Kodominan
Kodominan
Kodominan
21,00
29,29
42,99

27
28
29
39
31
X
Bengkirai
Bengkirai
Meranti
Meranti
Malaban
Kodominan
Kodominan
Kodominan
Kodominan
Kodominan
21,00
22,29
30,25
21,35
42,99


b.   Tiang
No
Petak
Nama Pohon
Tajuk
Diameter
(Cm)
Tinggi
( M )
1
2
I
Bengkirai
Malaban
Kodominan
Dominan
12,00
14,00

3
4
5
II
Malaban
Bengkirai
Meranti
Kodominan
Kodominan
Intermediet
12,00
13,00
11,00

9
10
11
III
Bengkirai
Meranti
Petai hutan
Kodominan
Intermediet
Dominan
14,00
11,00
15,00

12
13
14
15
IV
Mentibu
Meranti
Bengkirai
Malaban
Dominan
Kodominan
Dominan
Kodominan
16,00
14,00
18,00
14,00

16
V
Malaban
Dominan
16,00

17
18
VI
Bengkirai
Malaban
Kodominan
Dominan
18,01
15,00

19
20
21
VII
Meranti
Bengkirai
Malaban
Dominan
Intermidiet
Kodominan
12,00
11,01
11,00

22
23
24
VIII
Bengkirai
Meranti
Meranti
Intermediet
Dominan
kodominan
12,00
16,00
14,00

25
26
27
IX
Meranti
Bengkirai
Bengkirai
Kodominan
Dominan
   Kodominan
15,00
17,00
12,00

22
X
Bengkirai
Malaban
Meranti
   Kodominan
   Kodominan
   Kodominan
13,00
14,00
12,00





            c.   Pancang
No
Petak
Jenis Pohon
Tajuk
1
2
3
I
Bengkirai
Malaban
Meranti
Intermediet
Intermediet
Intermediet
4
5
6
7
II
Malaban
Meranti
Bengkirai
Meranti
Intermediet
Intermediet
Intermediet
Intermediet
8
9
III
Malaban
Meranti
Intermediet
Intermediet
10
11
IV
Mentibu
Malaban
Intermediet
Intermediet
12
13
14
15
16
V
Malaban
Meranti
Bengkirai
Meranti
Meranti
Intermediet
Intermediet
Intermediet
Intermediet
Intermediet
17
18
19
VI
Meranti
Meranti
Meranti
Intermediet
Intermediet
Intermediet
20
21
VII
Malaban
Malaban
Intermediet
Intermidiet
22
23
24
25
26
27
VIII
Malaban
Meranti
Bengkirai
Meranti
Meranti
Meranti
Intermediet
Intermediet
Intermediet
Intermediet
Intermediet
Intermediet
27
IX
Kayu Malam
Intermediet
28
29
X
Meranti
Meranti
Intermediet
Intermediet
           
d.         Semai
No
Petak
Jenis Pohon
Tajuk
1
2
3
I
Bengkirai
Malaban
Meranti
Tertekan
Tertekan
Tertekan
4
5
6
II
Bengkirai
Meranti
Meranti
Tertekan
Tertekan
Tertekan
7
8
9
III
Bengkirai
Malaban
Meranti
Tertekan
Tertekan
Tertekan
10
11
12
IV
Meranti
Meranti
Meranti
Tertekan
Tertekan
Tertekan
13
14
15
16
V
Malaban
Meranti
Bengkirai
Meranti
Meranti
Tertekan
Tertekan
Tertekan
Tertekan
Tertekan
17
18
19
VI
Bengkirai
Meranti
Meranti
Tertekan
Tertekan
Tertekan
20
21
VII
Bengkirai
Meranti
Tertekan
Tertekan
22
23
24
VIII
Malaban
Bengkirai
Mentibu
Tertekan
Tertekan
Tertekan
25
26
IX
Bengkirai
Mentibu
Tertekan
Tertekan
27
28
X
Malaban
Bengkirai
Tertekan
Tertekan



3.   Tingkat Toleransi Pohon
No
Jenis Pohon
Sifat Toleransi
Ciri-cirinya
1
Meranti
Semitoleran
·               Kerapatan tajuk tebal, lebat dan tinggi
·               Kerapatan batang tinggi
·               Pemangkasan cabang alami lambat
·               Jumlah percabangan banyak
2
Bengkirai
Semitoleran
·               Kerapatan tajuk tebal, lebat dan tinggi
·               Kerapatan batang tinggi
·               Pemangkasan cabang alami lambat
·               Jumlah percabangan banyak
3
Malaban  
Semitoleran
·               Kerapatan tajuk tebal, lebat dan tinggi
·               Kerapatan batang tinggi
·               Pemangkasan cabang alami lambat
·               Jumlah percabangan banyak
4
Mentibu
Semitoleran
·               Kerapatan tajuk mempunyai daun yang relatif tipis, tajuk dan knopi yang terbuka
·               Kerapatan batang lebih rendah
·               Pemangkasan cabang alami lebih cepat
·               Jumlah percabangan jarang
5
Petai hutan
Semitoleran
·               Kerapatan tajuk tebal, lebat dan tinggi
·               Kerapatan batang tinggi
·               Pemangkasan cabang alami lambat
·               Jumlah percabangan sedikit
6
Kayu Malam
Semitoleran
·               Kerapatan tajuk tebal, lebat dan tinggi
·               Kerapatan batang tinggi
·               Pemangkasan cabang alami lambat
·               Jumlah percabangan banyak

B.  PEMBAHASAN
1.      Pengenalan Tegakan Hutan
a.       Asal Tegakan
Dari tabel diatas maka dapat diketahui bahwa hutan tersebut merupakan hutan yang berasal dari biji. Sehingga hutan tersebut bisa dikatakan hutan tinggi 
b.      Umur Tegakan
Merupakan hutan muda, karena didominasi oleh tanaman permudaan yaitu; semai, tiang dan pancang yang muncul setelah adanya pembebasan atau penebangan (pembakalan) dan berada dalam beragam fase pertumbuhan.
c.       Komposisi
Merupakan hutan campuran. Tidak ada jenis dominan. Keuntungan biologis hutan campuran :
Lebih sehat karena tidak mudah terserang agen-agen perusak seperti; serangga, hama, jamur, dan lain-lain
1.      Ruang tajuk dapat dimanfaatkan lebih baik, terutama dari jenis-jenis toleran dan intoleran.
2.      Siklus haranya lebih cepat karena kondisi serasah yang merupakan campuran dari jenis-jenis daun
3.      Kondisi iklim mikro berfluktuasi lebih rendah
d.      Campur tangan manusia
Banyaknya permudaan tingkat semai yang berasal dai biji serta ada yang berasal dari trubusan memberikan pengertian bahwa hutan ini merupakan hutan alam. Karena regenerasinya tanpa campur tanggan manusia.
2.   Struktur Hutan
Strukur tegkan hutan di lokasi praktikum menunjukan kelas sebaran umur pertumbuhan pada tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon. Distibusi kelas umur dilihat dari tabel pengamatan, seluruh jenis pada setiap kelas umur dengan rataan diameter. Berdasarkan tabel diatas, menunjukan bahwa tegakan alam hasil prktikum termaksud dalam Tegakan Tidak Seumur (Baker, 1950).
      Ciri-ciri tegakan tidak seumur :
1.      Kondisi tajuk tidak teratur dengan ditunjang oleh bentuk batang yang kuat.
2.      Resiko bahaya angin sedikit atau kecil
3.      Kondisi tempat tumbuh stabil, akan tetapi kehadiran vegetasi yang tidak diinginkan sulit dikontrol.
4.      Pohon kecil merupakan pohon penghasil kayu dikemudian hari. Pohon-pohon ini sangat merespon terhadap pembebasan
5.      Regenerasi terjadi waktunya menyebar pada seluruh umur rotasi pada pohon-pohon yang terdapat di dalam tegakan.




BAB IV
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
1.   Tipe Hutan
b)      Asal tegakan termaksud hutan tinggi
c)      Umur tegakan termaksud hutan muda
d)     Komposisi tegakan termaksud hutan campuran
e)      Campur tangan manusia termaksud hutan alam
2.   Struktur Tegakan Hutan, Struktur tegakan termasuk hutan tidak seumur terdapat tingkat semai, pancang, tiang dan pohon.
  1. Klasifikasi Pohon
a)      Jenis pohon dominan yang terdapat pada kawasan praktek lapangan jumlahnya 14
b)      Jenis pohon kodominan jumlahnya 36
c)      Jenis pohon intermediet jumlahnya 37
d)     Jenis pohon tertekan jumlahnya  30
  1. Toleransi Pohon
a)      Terdapat 6 spesies pohon semitoleran, yaitu; shorea.sp, bengkirai, keladan, bonet, mentibu, petai hutan.
B.     SARAN
1.      Sebelum kelapangan dalam kelompok harus mempersiapkan atau membagi tugas pada masing-masing anggota.
2.      Pemandu praktikum harus orang yang benar-benar mengetahui tentang areal praktek dan dapat mengarahkan sesuai dengan tugasnya yang memandu kelompok praktikum.
3.      usahakan kekompakan dari para anggota praktikum.
4.      Kalau bisa tahun depan pratikumnya jangan gabung dengan SC soalnya tahun ini berantakan.
5.      Usahakan tahun depan praktikumnya jangan sampai seperti tahun ini yang tidak nyaman suasannya.
Glosarium : x pohon yang tidak di ketahui jenisnya,
x1,x2,x3...... juga pohon yang tidak diketahui jenisnya namun berbeda jenis.
DAFTAR PUSTAKA
Astiani, Dwi. Hanna Artuti Ekamawati. Togar Fernando ; 2000 ; Buku Ajaran Silvika ; Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura ; Pontianak.
S. Baker, Frederick ; 1995 ; Prinsip – Prinsip Silvikultur  ; Edisi kedua ; Gaja Mada University Press ; Yokyakarta.


















GAMBAR





  Tingkat Semai : Petai Hutan                              Tingkat Pancang : X
 







   Tingkat Semai : X                                              Tingkat Semai : X
 







    Tingkat Semai : X                                              Tingkat Pancang : X


 

                                                                                                    Tingkat Tiang : Meranti










 



                                                                                                   Tingkat Tiang : Mentibu











                                                                                                   
                                                                                                     Tingkat Pohon : Malaban






 


                                                                                                     Tingkat Pohon : Meranti





 


                                                                                                     Tingkat Pohon : Kayu Malam








 

                                                                                                      Tingkat Pohon : Mentibu
 








                                                                                                      Tingkat Pohon : Bengkirai